Thursday 28 May 2015

10 Makanan Indonesia Hasil Adaptasi Makanan Luar Negeri

Selain kaya akan ragam budaya, Indonesia juga kaya akan ragam kulinernya. Di setiap daerah di Indonesia pasti ada makanan yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut. Meski demikian, tidak bisa kita pungkiri bahwa ada beberapa makanan yang - meskipun secara bentuk sangat kental dengan budaya Indonesia, namun - tidak sepenuhnya asli Indonesia. Makanan tersebut merupakan adaptasi dari makanan luar negeri dan disajikan dengan cita-rasa Indonesia agar lebih bisa diterima.

Hal ini sah-sah saja karena merupakan wujud kreativitas dan yang diadaptasi adalah idenya. Toh bentuk akhir dan rasanya jauh berbeda dengan makanan aslinya di luar negeri. Ada banyak sekali makanan yang merupakan adaptasi makanan luar negeri. Dan berikut ini adalah 10 di antaranya :

1. GADO-GADO
Masyarakat luar negeri mengenalnya dengan sebutan "Indonesian Salad". Dan Salad sendiri aslinya merupakan makanan Perancis yang sudah dikonsumsi masyarakat di sana sejak abad 14. Pada awal kemunculannya, Salad merupakan makanan yang terdiri dari campuran sayur-sayuran segar, dan dikonsumsi mentah. Dengan berkembangkan teknologi dan kemampuan manusia dalam mengolah makanan, maka salad pun mulai dikonsumsi dengan menggunakan beberapa sayur matang, serta dengan tambahan bumbu (dressing) seperti Mayonnaise dan Thousand Island.

Di Indonesia sendiri, tidak jelas siapa yang memberikan inspirasi dan sejak kapan orang Indonesia mulai memakan gado-gado. Berdasarkan catatan yang saya temukan, gado-gado pertama kali diperkenalkan secara komersil pada tahun 1947 di Jakarta. Karena itu, bisa dikatakan pada waktu itulah masyarakat Indonesia pertama kali mengenal gado-gado.

Meski pun memiliki konsep mirip salad di luar negeri, gado-gado memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan salad. Pertama dari bahannya. Meski pun mayoritas sayuran, namun sayuran yang digunakan adalah sayuran yang sudah diolah, bukan sayur mentah. Selain itu, gado-gado menggunakan tambahan tahu, tempe, telor, dan krupuk, serta penggunaan bumbu kacang sebagai "dressing" yang membuat gado-gado memiliki identitas "Indonesia Banget" yang sama sekali berbeda dengan Salad pada umumnya.



2. SOTO
Meski makanan ini lahir di Semarang, namun menurut Dennys Lombard dalam bukunya "Nusa Jawa : Silang Budaya", makanan ini bukanlah produk asli Indonesia tapi merupakan asimilasi dari budaya India dan Tionghua.

Ide pembuatan sup kuning pekat ini adalah dari makanan India yang banyak menggunakan kuah kunyit bersantan. Pada waktu itu, masyarakat Tionghua di Semarang mencoba membuat sup ini dengan menambahkan daging dan sayuran ke dalamnya. Hasilnya menjadi sebuah sup sayur daging bersantan kental yang dikenal dengan sebutan Cauto / Caudo. Karena sulit dilafalkan masyarakat pribumi, penyebutannya pun diubah menjadi Soto. Seiring berjalannya waktu, Soto mengalami banyak perubahan dan muncullah berbagai variasi rasa Soto yang kelak menjadi ciri khas masing-masing daerah : Soto Betawi, Soto Semarang, Soto Madura, Coto Makasar, dan lain-lain.



3. BAKSO
Makanan Sejuta Umat di Indonesia ini sudah tidak asing lagi bagi Anda. Ya, bakso sudah bukan hal baru lagi dan sudah menjadi bagian terpenting dalam kuliner Indonesia. Hampir semua wilayah di Indonesia punya makanan yang menggunakan makanan berbentuk bola yang terbuat dari daging giling dan tapioka ini.

Meski sangat populer di Indonesia, bakso bukan makanan asli Indonesia. Bakso aslinya adalah makanan khas bangsa Romawi yang sudah dikenal sejak abad ke-4 (berdasarkan buku kumpulan resep masak Apicius). Namun berbeda dengan bakso yang kita kenal di masa kini, bakso Romawi berbentuk bola kasar berukuran besar.

Begitu lezatnya makanan itu, banyak negara yang kemudian mengadapsi dan menjadikan bakso sebagai makanan negara mereka. Tiongkok adalah salah satu negara yang mengadopsi resep bakso dari Romawi tersebut dan membuatnya menjadi bentuk yang lebih halus dan lebih kecil, agar penampilannya menggugah selera dan lebih mudah dikonsumsi.

Pada abad 17, pedagang Tiongkok melakukan perjalanan ke Indonesia. Dan pada waktu itulah mereka mengajarkan metode pengolahan bakso kepada masyarakat Indonesia. Pengetahuan itu kemudian diajarkan secara meluas, sehingga pada hari ini banyak orang Indonesia yang bisa membuat bakso, bahkan memunculkan berbagai varian rasa, bentuk, dan bahan yang digunakan.

Nama Bakso sendiri berasal dari bahasa Hokkian (Bak : Daging Babi; dan So : Masakan). Pada awalnya, Bakso memang diolah dari daging babi. Karena masyarakat Indonesia tidak bisa mengonsumsi daging babi, maka digantilah menjadi daging sapi.



4. MARTABAK
Meski Martabak Bangka adalah makanan yang sangat digemari dan ada di mana-mana, tapi percayalah kalau Martabak sendiri bukan makanan asli Indonesia.

Martabak aslinya adalah makanan asli India bernama Moortaba. Proses pembuatannya sama persis dengan proses pembuatan makanan khas India seperti Roti Cane, Mamosa, Chappaty, Nan, dan Purata, di mana Martabak dibentuk menjadi bentuk lingkaran besar, kemudian diisi daging dan sayuran, lalu digoreng.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Martabak pertama kali dipopulerkan dan dijual di Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah. Martabak yang pertama kali dijual tersebut adalah martabak yang dikenal publik sekarang sebagai "Martabak Asin". Makanan itu diperkenalkan seorang pedagang asal India bernama Abdullah bin Hassan Almalibary asal India. Awalnya, makanan tersebut dikenal dengan nama Moortaba, sesuai nama aslinya di India. Tapi karena sulit dilafalkan, jadilah berganti nama menjadi Martabak.



5. SATE
Seperti yang kita ketahui, Sate adalah makanan tradisional Indonesia yang sangat terkenal. Meski sejarah menyebut Sate adalah makanan asli Indonesia, tapi sebenarnya sate bukanlah makanan asli Indonesia.

Sate merupakan adaptasi dari Daging Steak yang pertama kali dikenal masyarakat Scandinavia pada pertengahan abad 15. Proses mengolah daging dengan dibakar dan diberi bumbu ini kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk Eropa.

Ketika Belanda menjajah Indonesia, budaya memasak Steak dibawa ke Indonesia. Ide membakar daging di atas bara api ini menjadi inspirasi orang Indonesia untuk membuat modifikasinya. Karena daging cukup mahal kala itu, maka masyarakat Indonesia mengakalinya dengan memotong daging itu kecil-kecil dan ditancapkan ke tusukan untuk kemudian dibakar. Dengan demikian, masaknya bisa lebih cepat matang, porsinya bisa lebih banyak, dan bisa dinikmati banyak orang.

Makanan ini kemudian dijual sebagai makanan kaki lima di awal abad ke-19 di Jawa. Nama "sate" atau "satai" sendiri diduga berasal dari bahasa Tamil. Tapi ada juga teori lain yang menyebutkan kalau Sate berasal dari bahasa Minnan, Tionghua yang menyebutkan daging yang dibakar dengan istilah Sa Tae Bak (Tiga Daging Bakar). Ada pula teori yang menyebutkan kalau "Sate" merupakan adaptasi dari kata "Steak" itu sendiri (apabila diucapkan dengan nada pelan, maka "Steak" akan terdengar mirip kata "Sate"/ "Sa Te Ik").



6. NASI GORENG
Nasi Goreng juga merupakan salah satu makanan "sejuta umat" di Indonesia, dan sudah dianggap sebagai makanan nasional. Namun faktanya, Nasi Goreng memang bukanlah makanan asli produk Indonesia, melainkan adaptasi (kalau tidak mau disebut "jiplakan") dari luar negeri.

Menurut catatan Sejarah, Nasi Goreng sudah ada sejak 4000 SM dan menjadi makanan tradisional masyarakat Tionghua. Pembuatan nasi goreng ini berawal dari sering adanya sisa nasi setiap kali usai santap malam. Karena di masa lalu belum ada teknologi kulkas yang bisa mengawetkan nasi, maka masyarakat Tionghua pun memasak sisa nasi tersebut. Proses ini akan membuat nasi menjadi tahan lebih lama, minimal 48 jam. Budaya ini kemudian dibawa oleh perantau Tionghua ke seluruh negara, termasuk Indonesia.

Nasi Goreng Indonesia mulai dikenal secara luas, termasuk ke luar negeri (waktu itu Belanda), pada tahun 1979 ketika Tante Lien - salah seorang penyanyi terkenal Indonesia di masa itu - menyanyikan lagu "Geef Mij Maar Nasi Goreng" (Beri Aku Nasi Goreng Saja). Lagu berlirik kocak itu bercerita tentang kerinduan seorang penduduk Indonesia - yang tinggal Belanda - pada Nasi Goreng yang merupakan makanan favoritnya waktu masih di Indonesia. Dari sanalah, Nasi Goreng menjadi masyur dan dikenal dunia.




7. SEMUR
Masakan yang terbuat dari daging rebus yang diolah dalam kuah berwarna coklat pekat yang terbuat dari kecap manis, bawang merah, bawang bombay, pala, dan cengkeh ini adalah masakan asli Belanda yang dikenal dengan nama "Smoor".

Aslinya, masakan itu adalah sup daging yang direbus dengan tomat dan bawang, yang dimasak pelan-pelan di atas api kecil. Diduga Belanda mulai memperkenalkan masakan ini ke Indonesia sekitar tahun 1600-an. Dengan banyaknya rempah dan bumbu khas di Indonesia yang tidak ada di Eropa, maka mulailah masyarakat Belanda yang tinggal di Indonesia melakukan pengembangan cita-rasa Smoor yang beragam. Salah satu buku resep tertua yang mendokumentasikan varian masakan ini adalah Goot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek yang terbit tahun 1902 di Belanda. Buku ini memuat 6 resep Smoor (Smoor Ajam 1, Smoor Ajam II, Smoor Ajam III, Smoor Bandjar van Kip, Smoor Banten van Kip, dan Solosche Smoor van Kip).

Seiring berjalannya waktu, masakan Smoor itu kemudian diadaptasi menjadi masakan tradisional Indonesia yang dikenal dengan sebutan "Semur". Dan Semur pun tidak hanya menjadi masakan di Jawa saja, tetapi telah diserap oleh daerah lain di Indonesia : Semur Betawi, Semur Manado, Semur Malbi (Palembang), Semur Lidah (Bali), Semur Aceh, Semur Goreng Samarinda, Semur Ikan Purwokerto, Semur Santan Maluku, dan Semur Ternate.



8. BUBUR AYAM
Salah satu makanan paling populer di Indonesia (terutama di Jakarta dan Jawa Barat) adalah Bubur Ayam. Uniknya, meski sudah sangat kental dengan budaya Tionghua-nya, banyak orang yang masih mengira Bubur Ayam adalah makanan asli produk Indonesia. Padahal bukan.

Bubur - dalam bahasa Inggris disebut "Congee" - adalah makanan tradisional masyarakat Tionghua sejak ribuan tahun yang lalu. Diduga pada zaman dulu, Bubur adalah makanan mewah bagi Raja. Dan berdasarkan catatan yang ada, Raja pertama yang mengonsumsi bubur adalah Raja Hsi Huang Ti (berkuasa pada tahun 2698 - 2598 Sebelum Masehi), Pendiri Tembok China. Aslinya, Congee dimakan polos dengan tambahan lauk seperti cakwe, asinan rebung, daging sapi, dan lain-lain.

Tidak jelas kapan Bubur Ayam pertama kali dijual di Indonesia. Tapi pastinya hingga hari ini Bubur Ayam menjadi makanan dan sarapan pagi yang cukup digemari masyarakat. Umumnya, Bubur Ayam menggunakan suwiran daging ayam, potongan cakwe, potongan daun bawang, bawang goreng, dan seledri. Ada juga tambahan telor dan potongan hati-ampela ayam. Sementara itu, beberapa daerah lain di Indonesia punya variasi bubur mereka sendiri :

Di Manado, buburnya diberi campuran sayuran dan biji jagung dan dikenal dengan nama Tinutuan (Bubur Manado).

Di Bali buburnya pedas, dengan campuran sayuran, bawang goreng, dan cabe yang disebut Bondalem.

Sementara itu di Maluku dan Papua, mereka menggunakan tepung Sago sebagai bahan dasar bubur. Bubur mereka disebut Papeda dan biasanya dimakan dengan campuran sup Ikan Tuna atau Mubara.



9. PEMPEK
Nah, ini adalah makanan tradisional khas Palembang yang sudah terkenal di seluruh Indonesia dan manca negara. Meski demikian, makanan ini bukan produk asli Indonesia, tapi adaptasi dari produk luar negeri. 

Produk ini sebenarnya merupakan pengembangan dari Bakso yang dibuat masyarakat Tiongkok. Meski Bakso sudah diperkenalkan ke masyarakat Indonesia abad 17, tapi Pempek sendiri baru mulai dibuat pada abad 18, setelah produk sagu mulai dikenal dan diproduksi massal di Indonesia pada tahun 1810. Pada awal kemunculannya, pempek dibuat dengan menggunakan Ikan Belida yang hanya hidup di Palembang. Namun karena makin langka dan mahalnya ikan tersebut, digunakanlah jenis ikan lain seperti Tenggiri, Kakap Merah, Ikan Sebelah, dan Ikan Ekor Kuning. Dalam perkembangan lebih lanjut, mulai muncul ikan lele yang dibuat dari Ikan Dencis, Ikan Lele, dan Ikan Tuna Putih.

Hingga hari ini, Pempek telah memiliki puluhan varian. Yang paling populer adalah Pempek Kapal Selam. Selain itu, ada juga Pempek Kulit, Pempek Lenjer, Pempek Keriting, Otak-Otak, dan lain-lain. Turunan dari pempek pun banyak : Laksan, Tekwan, Model, dan Celimpungan.



10. ONDE-ONDE
Ini adalah cemilan dan kue jajanan pasar paling populer di Indonesia. Terbuat dari tepung terigu yang diisi pasta kacang hijau, dibentuk bundar lalu digoreng, kemudian permukaannya ditaburi biji wijen. Dari catatan sejarah, Onde-onde sudah ada sejak jaman Majapahit (1293 - 1500 Masehi) dan Mojokerto merupakan penghasil Onde-onde yang sangat terkenal sejak masa itu hingga hari ini. Dengan melihat sejarahnya, banyak orang mengatakan makanan ini adalah cemilan khas Indonesia. Benarkah?

Faktanya, Onde-onde aslinya berasal dari Tiongkok dan sudah terkenal sejak Dinasti Tang (618 - 907 Masehi). Cemilan ini merupakan kue resmi daerah Changan (sekarang Xian) dan disebut Ludeui. Makanan ini sangat populer di negara itu sehingga banyak daerah Tiongkok kemudian membuat variasi Onde-Onde mereka sendiri. Di Tiongkok Utara, Onde-Onde mereka disebut Matuan. Di Hainan disebut Zhen Dai atau Shi Ma Qiu. Dan di daerah Timur Laut Tiongkok disebut Ma Yuan.

Diperkirakan produk ini masuk ke Indonesia lewat pedagang Tiongkok sekitar abad 12.

Aslinya, Onde-Onde di Tiongkok berbentuk bulat dan lebih kenyal seperti kue moci. Namun saat diadaptasi menjadi cemilan Indonesia, Onde-Onde dibuat dengan tekstur yang lebih keras meski masih kenyal.




1 comment: