Lebaran tinggal hitungan hari. Beragam kesenian dan pertunjukan budaya dipersiapkan warga untuk menyambut hari kemenangan Umat Muslim ini. Dan berikut ini adalah tradisi budaya khas Indonesia yang biasanya dilakukan oleh masyarakat dalam menyambut Lebaran.
1. TRADISI PAWAI PEGONG
Ini adalah tradisi Lebaran unik yang hanya dilakukan di Jember, Jawa Timur. Pada hari ketujuh setelah Lebaran, masyarakat Jember mengadakan festival pawai Pegong (pedati khas Jember). Pegong tersebut dihias dengan cantik, kemudian diarak dari kota menuju pesisir Sungai Ulo Watu.
Setelah tiba di lokasi, masyarakat kemudian bersantap ketupat bersama.
Tradisi ini sudah merupakan tradisi turun-temurun. Hingga hari ini tradisi ini masih dipertahankan. Tidak saja bertujuan mempertahankan warisan budaya leluhur, tetapi juga untuk mempertahankan keberadaan Pegong, yang hingga hari ini sudah tersisih oleh moda transportasi modern, seperti angkot, taksi, dan ojek.
2. TRADISI MEUGANG
Di Aceh, ada tradisi unik bernama Meugang. Tradisi ini dilakukan saat Lebaran, di mana keluarga yang merayakan Lebaran di Aceh beramai-ramai menyembelih dan memasak daging sapi atau kambing, yang kemudian dibagikan kepada kaum dhuafa serta dimakan bersama keluarga.
Budaya ini masih dilakukan masyarakat perkampungan. Biasanya usai menjalani Sholat Ied, masyarakat berkumpul di halaman mesjid, kemudian melakukan tradisi ini. Tradisi Meugang tidak saja dilakukan di saat Lebaran, tetapi juga saat Idhul Adha atau Lebaran Kurban.
3. MENYULUT MERIAM KARBIT
Di Pontianak, saat malam takbiran, masyarakat mengadakan Festival Meriam Karbit yang dilakukan di Sungai Kapuas. Meriam Karbit adalah meriam yang terbuat dari bambu berbagai ukuran dan di dalamnya dimasukkan karbit. Cara menembaknya adalah dengan menyulutnya, sehingga karbit di dalam meriam pun meledak dan ledakannya keluar dari ujung bambu.
Festival ini digelar untuk mengenang Sultan Syarif Abdulrahman Alkadri, pendiri Kota Pontianak, yang punya kebiasaan mengusir kuntilanak dengan meriam.
Belakangan ini, Pemerintah Kota menjadikan festival itu sebagai kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun. Meriam Karbit disusun dan disulut mulai dari Pelabuhan Sangie Pontianak hingga kawasan pinggiran Gang Garuda di Jalan Imam Bonjol.
4. TRADISI RONJOK SAYAK
Dikenal juga dengan tradisi Bakar Gunung Api. Tradisi ini dilakukan di Bengkulu, dan sudah merupakan tradisi yang dilakukan ratusan tahun silam. Banyak orang meyakini tradisi ini pertama kali dilakukan oleh Suku Serawai yang merupakan salah satu suku tertua dan terlama di Bengkulu.
Tradisi ini biasanya dilakukan pada Malam Takbiran. Biasanya masyarakat menyusun batok kelapa seperti tusuk satu yang menjulang ke atas, lalu membakar batok itu. Pembakaran batok kelapa ini dilakukan warga secara serempak usai melaksanakan sholat Isya.
5. TRADISI PUKUL SAPU
Salah satu tradisi yang cukup ekstrim yang dilakukan di Indonesia adalah Tradisi Pukul Sapu. Tradisi ini biasanya dilakukan warga Desa Morella dan Desa Mamala yang berlokasi di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah.
Setiap hari ketujuh Lebaran, para warga berkumpul di halaman Mesjid Besar, kemudian mengutus para pria perwakilan masing-masing desa, untuk berkumpul di tengah lapangan. Setelah itu mereka pun saling menyabetkan lidi enau ke bagian badan lawannya. Lidi enau merupakan lidi yang sangat kuat dan tajam dan mampu merobek kulit jika tersabet ke tubuh. Tujuan Tradisi Pukul Sapu ini adalah untuk menjalin silaturahmi antar dua desa, dan memaafkan kesalahan di masa lalu.
Tradisi ini biasanya berlangsung sekitar 30 menit. Setelah semua peserta dipastikan terkena sabetan, maka "perang" pukul sapu pun selesai, dan para peserta saling berjabat tangan atau berpelukan.
6. TRADISI BATABO
Tradisi yang dilakukan warga Kampar, Kepulauan Riau, ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Bisa dikatakan tradisi ini merupakan tradisi menyambut para pemudik yang kembali ke kampung halamannya.
Biasanya, jika ada rombongan pemudik yang datang, masyarakat melakukan upacara penyambutan dan mengarak para pemudik dengan diiringi rebana, mulai dari lokasi kedatangan hingga ke desa mereka.
Malam harinya, tradisi ini dilanjutkan dengan pengajian dan lomba membaca Al-Qur'an.
Tradisi ini dilakukan sebagai wujud silaturahmi serta rasa rindu keluarga pada pemudik.
7. TRADISI LEBARAN TOPAT
Ketupat adalah salah satu makanan khas - selain gule - yang biasa disantap pada saat Lebaran. Namun Suku Sasak yang tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat, tidak menggunakannya untuk disantap tapi "senjata". Lho?
Ya. Seminggu sebelum Lebaran, Suku Sasak biasa melakukan tradisi yang mereka sebut Lebaran Topat. Tradisi yang biasa dilakukan di Pura Lingsar, Lombok Barat, ini melibatkan warga yang saling lembar ketupat. Warga percaya kalau mereka melempar ketupat ke warga lain, maka permohonan dan doa mereka terkabul.
8. TRADISI GREBEG SYAWAL
Tradisi Yogyakarta ini terbilang seru. Setiap tanggal 1 Syawal, pihak Keraton Yogyakarta akan menyerahkan Gunungan Lanang (Kakung) kepada warga untuk diarak ke Mesjid Gede Kraton Ngayogyakarta. Gunungan yang terbuat dari sayur-sayuran dan hasil bumi itu kemudian didoakan, lalu dibagi-bagikan kepada warga. Biasanya warga mengambil gunungan itu dengan cara berebutan.
Masyarakat percaya kalau gunungan yang sudah didoakan itu akan membawa berkah. Siapapun yang mendapatkan bagian dari gunungan itu, niscaya doanya akan terkabul.
9. TRADISI MEMBAKAR ILO SANGGARI
Ilo Sanggari adalah Lentera. Tradisi ini sebenarnya adalah tradisi kuno yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan Dompu, Nusa Tenggara Barat, sejak abad 15 Masehi. Sayangnya, tradisi ini sudah jarang dilakukan, mengingat listrik sudah masuk ke banyak desa di sana, sehingga penggunaan lentera sudah banyak ditinggalkan.
Tradisi ini biasa dilakukan tiga malam menjelang Idul Fitri. Pada waktu itu, masyarakat akan memasang lentera mengelilingi rumah mereka. Lentera yang dipasang biasanya merupakan lentera yang dibuat sendiri dengan berbagai bentuk dan warna.
10. TRADISI MAKAN NASI JAHA
Masyarakat Motoboi Besar di Sulawesi Utara mengenal tradisi Binarundak atau memasak Nasi Jaha bersama-sama. Tradisi ini biasanya dilakukan tiga hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini masih tergolong baru, dan terinspirasi dari Tradisi Lebaran Ketupat yang biasa dilakukan di Minahasa dan Gorontalo. Pelaksanaan acaranya pun mirip dengan tradisi tersebut, hanya bedanya yang dimasak dan dimakan bukan ketupat tapi Nasi Jaha.
Nasi Jaha adalah makanan khas Sulawesi Utara. Meski namanya "nasi", tapi bahan yang digunakan adalah Beras Ketan yang dicampur santan dan jahe. Campuran itu dimasukkan ke dalam batang bambu yang dilapisi daun pisang, kemudian dibakar dengan seraut kelapa. Setelah matang, Nasi Jaha kemudian dinikmati bersama masyarakat setempat.
Showing posts with label lebaran. Show all posts
Showing posts with label lebaran. Show all posts
Thursday, 9 July 2015
Monday, 29 June 2015
10 Pantangan Paling Aneh yang Ada di Indonesia... dan Penjelasan Ilmiahnya ...
Banyak negara - terutama di Asia - yang masih mengenal budaya "pantangan" atau pamali. Budaya ini melarang orang melakukan hal tertentu di suatu lingkungan atau kondisi tertentu. Sering kali alasannya berkonotasi mistis, padahal alasan sebenarnya hanyalah etika saja.
Di Indonesia, budaya Pamali sudah dikenal masyarakat sejak masa Nenek Moyang kita. Awalnya Pamali hanya dikenal dan dilakukan masyarakat pedesaan dan perkampungan saja. Namun seiring dengan banyaknya orang yang bermigrasi dan urbanisasi, budaya ini menyebar juga ke kota.
Meski pun di masa kini sudah jamannya gadget dan teknologi canggih, masih saja banyak orang - terlebih orang kota - yang masih memegang teguh budaya Pamali. Lucunya, pamali tersebut dituruti lebih karena alasan mistis dan supranatural. Ya... orang Kota yang Melek Teknologi kok masih percaya hal-hal gak jelas kayak gitu.
Berikut ini adalah beberapa Pantangan Paling Populer dan Paling Aneh yang hingga hari ini masih dipraktekkan di Indonesia. Praktek pantangan ini lebih didasarkan pada alasan mistis. Padahal di balik itu, ada penjelasan ilmiah yang bisa menjelaskan mengapa Pantangan itu harus ditaati.
1. ANAK GADIS TIDAK BOLEH MAKAN DI DEPAN PINTU
Salah satu pantangan paling populer di masyarakat masa kini adalah "Anak Gadis / Anak Perawan tidak boleh makan di depan pintu karena akan menghambat datangnya jodoh". Jika dipikir-pikir, alasan ini sebenarnya tidak ada dasar dan tidak bisa diterima nalar. Apa berarti ada jaminan untuk mendapatkan jodoh bagi para Anak Gadis yang tidak makan di depan pintu? Tidak juga kan?
Alasan sebenarnya dari dibuatnya pantangan ini lebih karena alasan estitika. Pantangan ini muncul karena di masa lalu - di kampung dan desa - rumah para penduduk terbuat dari kayu dan batu bata, serta tidak ada penerangan di dalam rumah. Karena itu, anggota keluarga, termasuk juga anak gadis keluarga itu memilih makan malam di luar rumah. Selain lebih terang, juga tidak pengap dan gelap (karena mereka biasa makan waktu sore hari). Masalahnya, makan paling enak adalah duduk di depan pintu masuk rumah karena anginnya paling sejuk di tempat itu. Jadi banyak orang - termasuk anak gadis - yang makan sambil duduk di pintu masuk rumah.
Yang jadi masalah adalah sebagian anak gadis itu makan dengan gaya yang agak "brutal" karena mencontoh ayah atau ibunya, seperti mengangkat kaki, makan dengan wajah belepotan makanan, dan makan sambil berkecap (mulut mengeluarkan suara). Pada sore hari, biasanya akan banyak petani yang pulang bersawah dan melewati rumah-rumah. Bisa dibayangkan bagaimana "jijiknya" para petani itu melihat ada anak gadis yang makannya "sejorok" itu (meski mereka pun makan dengan cara yang sama). Karena itu, guna mencegah agar anak gadis mereka tidak "turun harga" karena cara makannya dilihat banyak orang, maka para orang tua "memunculkan" pantangan seperti itu.
Pada akhirnya Pantangan itu berhasil mencegah anak-anak gadis penduduk kampung dan desa itu terhindar dari "malu" karena kepergok makan dengan gaya yang "kasar" di depan pintu.
2. MALAM JUMAT KLIWON WAKTUNYA HANTU GENTAYANGAN
Pantangan paling keliru yang pernah dibuat orang Indonesia adalah pantangan ini. Disebutkan bahwa "Anak-anak tidak boleh bermain pada waktu Malam Jumat Kliwon, karena pada waktu itu adalah waktunya hantu-hantu gentayangan". Kesalahan fatal ini ternyata mengakar dan menyebar pada anak-anak masa kini. Tidak heran banyak orang di masa kini yang mengkonotasikan Malam Jumat Kliwon sebagai Malamnya Setan. Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang takut dengan Malam Jumat Kliwon. Lebih parahnya lagi : banyak film bertema horor yang dibuat dengan tema Malam Jumat Kliwon.
Faktanya : Dalam ajaran Islam, Malam Jumat Kliwon adalah Malam yang Paling Baik bagi umat Muslim untuk belajar Al-Qur'an dan lebih mendekatkan diri pada Gusti Allah. Dalam perhitungan Tanggalan Jawa, Malam Jumat Kliwon berarti "Malam Agung / Malam Suci", sehingga wajib bagi umat Muslim untuk lebih khusyuk sembahyang.
Mengapa kemudian muncul "dongeng" tentang hantu di Malam Jumat Kliwon? Itu tidak lepas karena budaya di kampung pada masa lalu. Sejak jaman dulu, masyarakat sudah tahu kalau Malam Jumat Kliwon adalah malam yang baik untuk beribadah. Masalahnya anak-anak seringkali sulit diajak untuk ikut ke musholla di malam itu. Mereka sering asyik bermain hingga larut malam. Agar anak-anak mau beribadah bersama orang tuanya, maka banyak orang tua yang kemudian membuat cerita tentang "hantu di Malam Jumat Kliwon". Cerita ini bisa diterima anak-anak karena waktu itu semua keluarga tinggal di desa yang dekat hutan. Ditambah kondisi desa yang gelap (tidak ada penerangan), cerita tentang hantu itu lebih mudah masuk dan diterima anak-anak, sehingga mereka rajin dan kusyuk sembahyang di Malam Jumat Kliwon.
Parahnya, cerita "hantu di Malam Jumat Kliwon" justru beredar secara turun-temurun hingga hari ini. Bukannya tujuan mulia untuk sholat yang ditonjolkan, justru ketakutan pada hantulah yang kemudian mendominasi cerita tersebut. Parah ... !!!
3. DILARANG BERSIUL SAAT TENGAH MALAM
Pantangan gokil lain adalah "Jangan bersiul waktu tengah malam, karena nanti akan dikuntit Setan". Memang cukup aneh kedengarannya, karena seolah-olah Setan hanya muncul dan menguntiti manusia waktu tengah malam saja.
Pantangan bersiul saat tengah malam ini bermula pada jaman dulu. Di masa itu, tembok rumah-rumah penduduk di kampung dan desa terbuat dari anyaman bambu yang sangat tipis. Sehingga sangat wajar tembok itu tidak mampu menahan suara. Nah, tengah malam adalah waktu di mana semua orang desa sudah tertidur dengan sangat lelap. Meski sudah tengah malam, tapi ada saja remaja yang tidak bisa tidur. Kadang untuk mengusir sepi di tengah malam, mereka mendendangkan lagu dengan bersiul. Suara siulan jelas akan sangat mengganggu, karena suaranya yang melengking dan mengganggu telinga.
4. TIDAK BOLEH MEMOTONG KUKU DI MALAM HARI
Ini adalah pantangan yang cukup ekstrim karena jika melanggar aturan ini akan mati dan menjadi batu. Uniknya, pantangan ini "diajarkan" orang tua kepada anak-anaknya yang notabene berusia di bawah 10 tahun. Bisa dibayangkan, bagaimana "trauma"-nya anak tersebut mendengar pantangan seperti itu.
Munculnya pantangan ini juga karena kondisi di masa lalu. Waktu itu, orang-orang yang tinggal di desa atau perkampungan belum banyak yang mendapatkan penerangan dan listrik. Sementara itu, banyak kegiatan yang dilakukan di malam hari. Salah satunya adalah menggunting kuku.
Menggunting kuku di malam hari jelas-jelas merupakan kegiatan yang sangat berbahaya, karena menggunting dalam kegelapan dapat melukai orang yang menggunting kuku itu. Karena hal itulah, maka muncul pantangan tentang tidak boleh menggunting kuku di malam hari. Well... Andai saja orang tua cukup "jujur" menjelaskan anaknya akan bahaya menggunting kuku dalam kegelapan, tentu tidak perlu capek-capek mengarang cerita seram yang membuat trauma anak-cucunya sampai beberapa keturunan.
5. DILARANG BERENANG MENGGUNAKAN BAJU HIJAU
Pantangan ini sangat populer di kalangan masyarakat yang tinggal di pantai, terutama Pantai Selatan Jawa seperti Pangandaran dan Parangtritis. Pantangan ini dikaitkan dengan alasan supranatural di mana Nyi Roro Kidul - penguasa Lantai Selatan - suka mengambil orang-orang berpakaian hijau untuk dijadikan budaknya.
Faktanya bukan begitu. Pantai Selatan Jawa merupakan pantai yang cukup luas, membentang dari timur ke barat Pulau Jawa. Pantai di sana berwarna hijau karena banyak ditumbuhi ganggang laut. Nah, ini akan jadi masalah kalau ada orang yang pakai baju hijau, lalu terbawa arus. Tim SAR akan sangat kesulitan menemukan orang itu, terlebih jika dari udara karena pakaian yang dikenakan orang itu sama dengan warna air laut.
Untuk mencegah timbul korban yang terbawa arus saat berenang di daerah tersebut, para pengunjung justru dihimbau untuk mengenakan pakaian dengan warna yang mencolok, seperti merah terang, kuning, biru cerah, dan lain-lain.
Jadi alasan pelarangan menggunakan baju hijau tidak ada kaitannya dengan hal supranatural.
6. JANGAN MEMAKAI PAYUNG DI DALAM RUMAH
Pantangan ini sedikit konyol, karena jika ada orang yang memakai atau membuka payung di dalam rumah, maka hidupnya akan mengalami kesukaran atau berat jodoh.
Payung biasanya digunakan untuk melindungi orang dari panas dan hujan. Karena fungsinya ini, banyak orang kemudian mengaitkannya dengan hal supranatural, di mana aura buruk dari hujan dan panas (penderitaan dan kesialan) akan masuk ke rumah saat payung dibuka di dalam rumah. Faktanya bukan itu.
Saat dipakai, banyak debu yang menempel di payung. Apalagi jika payung dipakai saat hujan, maka partikel debu yang bercampur dengan air hujan akan lebih menempel ke payung. Jadi bisa Anda bayangkan, ketika payung yang penuh debu itu dibuka di dalam rumah, tentu saja debunya akan berserakan di dalam rumah.
Kesimpulannya : Memakai Payung di dalam rumah tidak akan membuat hidup orang yang memakai payung sengsara, tapi pemilik rumahlah yang akan sengsara karena harus membersihkan rumahnya dari debu yang menempel di payung.
7. JANGAN BERFOTO DENGAN JUMLAH GANJIL
Di beberapa negara - Jepang, Malaysia, dan Singapura - saya dengar juga ada pantangan seperti ini, di mana kita dilarang berfoto dengan jumlah ganjil, karena disebutkan orang yang di tengah-tengah akan cepat mati. Padahal bukan itu alasan sebenarnya dari pantangan ini.
Dalam konteks Etika, Posisi Tengah adalah Posisi Superioritas, sehingga siapapun yang berada di posisi tengah sudah dipastikan merupakan orang yang punya jabatan atau wewenang yang lebih daripada orang-orang di samping kiri-kanannya. Posisi Tengah biasanya hanya untuk seorang Pemimpin, Raja, Penguasa, Panglima Tertinggi, dan siapapun yang dihormati.
Siapapun tahu aturan dan etika itu. Tentu saja, jika hal ini diaplikasikan saat berfoto, tentu orang yang berada di posisi tengah akan jadi "besar kepala" karena akan menganggap dirinya sebagai sosok yang Paling Dihormati. Apalagi foto sifatnya permanen, tentu saja bisa menimbulkan kecemburuan sosial.
Berfoto dengan jumlah orang genap akan menghilangkan "posisi superioritas" dan menjadikan semua orang sederajat tanpa ada perbedaan. Karena itulah muncullah pantangan yang "melarang" orang berfoto dengan jumlah ganjil.
8. JANGAN TIDUR SORE MENJELANG MAGHRIB
Ada pantangan yang mengajarkan kita untuk tidak tidur sore menjelang maghrib. Tidak ada alasan mengapa, namun akibat dari tidur sore tersebut adalah kita bisa gila. Ada orang menyebutkan kalau Maghrib adalah saat Setan dan Iblis kembali ke alamnya, dan saatnya kaum Muslim untuk sholat agar dijauhkan dari Setan dan Iblis yang sedang kembali. Jika sampai Setan dan Iblis menemukan ada orang sedang tidur saat maghrib, maka mereka akan mengambil alih tubuh orang tersebut sehingga dia akan jadi gila.
Well.... alasan sebenarnya lebih pada dorongan agar Umat Muslim rajin melakukan sholat maghrib, dan tidak menggunakan waktu sore untuk tidur dan bermalas-malasan. Hanya saja caranya mungkin bisa dilakukan dengan lebih mendidik ....
9. TIDAK BOLEH MENGANGKAT KAKI KE ATAS SAAT TIDURAN
"Kalo mengangkat kaki ke atas saat tiduran, itu artinya mendoakan Ibumu cepat mati." Mungkin pantangan ini pernah Anda dengar. Pantangan yang cukup ekstrim dan tentu saja mengerikan bagi sebagian besar orang Indonesia, yang kebanyakan dekat dengan Ibunya.
Bagi sebagian dari Anda, mungkin pantangan ini terdengar aneh dan tidak masuk akal. Mari saya jelaskan : Setiap manusia punya jempol kaki, yang disebut juga dengan "Ibu" Jari Kaki. Nah, apabila saat tiduran kita mengangkat kaki, maka Ibu Jari Kaki itu akan terbalik. Jika diasosiasikan dengan manusia, maka tindakan itu sama saja dengan membalik Ibu kita sendiri dan mengharapkan beliau "mati".
Tidak ada alasan ilmiah yang bisa dijelaskan dari pantangan ini, selain penjelasan di atas.
Melalui perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, mengangkat kaki ke atas saat tiduran justru terbukti baik bagi kesehatan tubuh, karena dapat melancarkan peredaran darah.
10. JANGAN BERLAMA-LAMA DI KAMAR MANDI ATAU TOILET
Baru-baru ini di sebuah tayangan televisi, disebutkan kalau banyak orang yang meninggal di dalam kamar mandi karena terlalu lama di dalamnya. Kasus kematian tersebut kemudian dikaitkan dengan alasan mistis di mana kamar mandi atau toilet disebutkan sebagai tempat tinggalnya para jin. Kemudian kasus kematian itu juga membenarkan mitos dan pantangan agar orang tidak berlama-lama di kamar mandi atau toilet.
Secara ilmiah, sebenarnya bisa dijelaskan kalau kamar mandi dan toilet adalah tempat yang licin karena sering ada sisa air di lantai. Hal ini sangat berbahaya, terutama bagi orang tua yang menggunakan ruang tersebut. Selain itu karena pertimbangan estetika, banyak pernak-pernik yang ditempatkan di kamar mandi, yang menyebabkan tempat tersebut menjadi makin berbahaya untuk digunakan oleh orang tua, seperti penggunakan pijakan bertrap, dinding kaca, sudut tembok yang lancip, serta asesoris kamar mandi (tempat sabun, shampoo, dan lain-lain) yang terbuat dari aluminium atau besi dengan sudut yang tajam.
Jadi tidak ada peran jin yang dapat membuat seseorang mati di kamar mandi. Hanya saja, jika kamar mandi yang Anda pakai adalah kamar mandi atau toilet umum, maka sangat wajar jika Anda tidak berlama-lama di dalam. Banyak orang ngantri di luar menunggu giliran ....
Di Indonesia, budaya Pamali sudah dikenal masyarakat sejak masa Nenek Moyang kita. Awalnya Pamali hanya dikenal dan dilakukan masyarakat pedesaan dan perkampungan saja. Namun seiring dengan banyaknya orang yang bermigrasi dan urbanisasi, budaya ini menyebar juga ke kota.
Meski pun di masa kini sudah jamannya gadget dan teknologi canggih, masih saja banyak orang - terlebih orang kota - yang masih memegang teguh budaya Pamali. Lucunya, pamali tersebut dituruti lebih karena alasan mistis dan supranatural. Ya... orang Kota yang Melek Teknologi kok masih percaya hal-hal gak jelas kayak gitu.
Berikut ini adalah beberapa Pantangan Paling Populer dan Paling Aneh yang hingga hari ini masih dipraktekkan di Indonesia. Praktek pantangan ini lebih didasarkan pada alasan mistis. Padahal di balik itu, ada penjelasan ilmiah yang bisa menjelaskan mengapa Pantangan itu harus ditaati.
1. ANAK GADIS TIDAK BOLEH MAKAN DI DEPAN PINTU
Salah satu pantangan paling populer di masyarakat masa kini adalah "Anak Gadis / Anak Perawan tidak boleh makan di depan pintu karena akan menghambat datangnya jodoh". Jika dipikir-pikir, alasan ini sebenarnya tidak ada dasar dan tidak bisa diterima nalar. Apa berarti ada jaminan untuk mendapatkan jodoh bagi para Anak Gadis yang tidak makan di depan pintu? Tidak juga kan?
Alasan sebenarnya dari dibuatnya pantangan ini lebih karena alasan estitika. Pantangan ini muncul karena di masa lalu - di kampung dan desa - rumah para penduduk terbuat dari kayu dan batu bata, serta tidak ada penerangan di dalam rumah. Karena itu, anggota keluarga, termasuk juga anak gadis keluarga itu memilih makan malam di luar rumah. Selain lebih terang, juga tidak pengap dan gelap (karena mereka biasa makan waktu sore hari). Masalahnya, makan paling enak adalah duduk di depan pintu masuk rumah karena anginnya paling sejuk di tempat itu. Jadi banyak orang - termasuk anak gadis - yang makan sambil duduk di pintu masuk rumah.
Yang jadi masalah adalah sebagian anak gadis itu makan dengan gaya yang agak "brutal" karena mencontoh ayah atau ibunya, seperti mengangkat kaki, makan dengan wajah belepotan makanan, dan makan sambil berkecap (mulut mengeluarkan suara). Pada sore hari, biasanya akan banyak petani yang pulang bersawah dan melewati rumah-rumah. Bisa dibayangkan bagaimana "jijiknya" para petani itu melihat ada anak gadis yang makannya "sejorok" itu (meski mereka pun makan dengan cara yang sama). Karena itu, guna mencegah agar anak gadis mereka tidak "turun harga" karena cara makannya dilihat banyak orang, maka para orang tua "memunculkan" pantangan seperti itu.
Pada akhirnya Pantangan itu berhasil mencegah anak-anak gadis penduduk kampung dan desa itu terhindar dari "malu" karena kepergok makan dengan gaya yang "kasar" di depan pintu.
2. MALAM JUMAT KLIWON WAKTUNYA HANTU GENTAYANGAN
Pantangan paling keliru yang pernah dibuat orang Indonesia adalah pantangan ini. Disebutkan bahwa "Anak-anak tidak boleh bermain pada waktu Malam Jumat Kliwon, karena pada waktu itu adalah waktunya hantu-hantu gentayangan". Kesalahan fatal ini ternyata mengakar dan menyebar pada anak-anak masa kini. Tidak heran banyak orang di masa kini yang mengkonotasikan Malam Jumat Kliwon sebagai Malamnya Setan. Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang takut dengan Malam Jumat Kliwon. Lebih parahnya lagi : banyak film bertema horor yang dibuat dengan tema Malam Jumat Kliwon.
Faktanya : Dalam ajaran Islam, Malam Jumat Kliwon adalah Malam yang Paling Baik bagi umat Muslim untuk belajar Al-Qur'an dan lebih mendekatkan diri pada Gusti Allah. Dalam perhitungan Tanggalan Jawa, Malam Jumat Kliwon berarti "Malam Agung / Malam Suci", sehingga wajib bagi umat Muslim untuk lebih khusyuk sembahyang.
Mengapa kemudian muncul "dongeng" tentang hantu di Malam Jumat Kliwon? Itu tidak lepas karena budaya di kampung pada masa lalu. Sejak jaman dulu, masyarakat sudah tahu kalau Malam Jumat Kliwon adalah malam yang baik untuk beribadah. Masalahnya anak-anak seringkali sulit diajak untuk ikut ke musholla di malam itu. Mereka sering asyik bermain hingga larut malam. Agar anak-anak mau beribadah bersama orang tuanya, maka banyak orang tua yang kemudian membuat cerita tentang "hantu di Malam Jumat Kliwon". Cerita ini bisa diterima anak-anak karena waktu itu semua keluarga tinggal di desa yang dekat hutan. Ditambah kondisi desa yang gelap (tidak ada penerangan), cerita tentang hantu itu lebih mudah masuk dan diterima anak-anak, sehingga mereka rajin dan kusyuk sembahyang di Malam Jumat Kliwon.
Parahnya, cerita "hantu di Malam Jumat Kliwon" justru beredar secara turun-temurun hingga hari ini. Bukannya tujuan mulia untuk sholat yang ditonjolkan, justru ketakutan pada hantulah yang kemudian mendominasi cerita tersebut. Parah ... !!!
3. DILARANG BERSIUL SAAT TENGAH MALAM
Pantangan gokil lain adalah "Jangan bersiul waktu tengah malam, karena nanti akan dikuntit Setan". Memang cukup aneh kedengarannya, karena seolah-olah Setan hanya muncul dan menguntiti manusia waktu tengah malam saja.
Pantangan bersiul saat tengah malam ini bermula pada jaman dulu. Di masa itu, tembok rumah-rumah penduduk di kampung dan desa terbuat dari anyaman bambu yang sangat tipis. Sehingga sangat wajar tembok itu tidak mampu menahan suara. Nah, tengah malam adalah waktu di mana semua orang desa sudah tertidur dengan sangat lelap. Meski sudah tengah malam, tapi ada saja remaja yang tidak bisa tidur. Kadang untuk mengusir sepi di tengah malam, mereka mendendangkan lagu dengan bersiul. Suara siulan jelas akan sangat mengganggu, karena suaranya yang melengking dan mengganggu telinga.
4. TIDAK BOLEH MEMOTONG KUKU DI MALAM HARI
Ini adalah pantangan yang cukup ekstrim karena jika melanggar aturan ini akan mati dan menjadi batu. Uniknya, pantangan ini "diajarkan" orang tua kepada anak-anaknya yang notabene berusia di bawah 10 tahun. Bisa dibayangkan, bagaimana "trauma"-nya anak tersebut mendengar pantangan seperti itu.
Munculnya pantangan ini juga karena kondisi di masa lalu. Waktu itu, orang-orang yang tinggal di desa atau perkampungan belum banyak yang mendapatkan penerangan dan listrik. Sementara itu, banyak kegiatan yang dilakukan di malam hari. Salah satunya adalah menggunting kuku.
Menggunting kuku di malam hari jelas-jelas merupakan kegiatan yang sangat berbahaya, karena menggunting dalam kegelapan dapat melukai orang yang menggunting kuku itu. Karena hal itulah, maka muncul pantangan tentang tidak boleh menggunting kuku di malam hari. Well... Andai saja orang tua cukup "jujur" menjelaskan anaknya akan bahaya menggunting kuku dalam kegelapan, tentu tidak perlu capek-capek mengarang cerita seram yang membuat trauma anak-cucunya sampai beberapa keturunan.
5. DILARANG BERENANG MENGGUNAKAN BAJU HIJAU
Pantangan ini sangat populer di kalangan masyarakat yang tinggal di pantai, terutama Pantai Selatan Jawa seperti Pangandaran dan Parangtritis. Pantangan ini dikaitkan dengan alasan supranatural di mana Nyi Roro Kidul - penguasa Lantai Selatan - suka mengambil orang-orang berpakaian hijau untuk dijadikan budaknya.
Faktanya bukan begitu. Pantai Selatan Jawa merupakan pantai yang cukup luas, membentang dari timur ke barat Pulau Jawa. Pantai di sana berwarna hijau karena banyak ditumbuhi ganggang laut. Nah, ini akan jadi masalah kalau ada orang yang pakai baju hijau, lalu terbawa arus. Tim SAR akan sangat kesulitan menemukan orang itu, terlebih jika dari udara karena pakaian yang dikenakan orang itu sama dengan warna air laut.
Untuk mencegah timbul korban yang terbawa arus saat berenang di daerah tersebut, para pengunjung justru dihimbau untuk mengenakan pakaian dengan warna yang mencolok, seperti merah terang, kuning, biru cerah, dan lain-lain.
Jadi alasan pelarangan menggunakan baju hijau tidak ada kaitannya dengan hal supranatural.
6. JANGAN MEMAKAI PAYUNG DI DALAM RUMAH
Pantangan ini sedikit konyol, karena jika ada orang yang memakai atau membuka payung di dalam rumah, maka hidupnya akan mengalami kesukaran atau berat jodoh.
Payung biasanya digunakan untuk melindungi orang dari panas dan hujan. Karena fungsinya ini, banyak orang kemudian mengaitkannya dengan hal supranatural, di mana aura buruk dari hujan dan panas (penderitaan dan kesialan) akan masuk ke rumah saat payung dibuka di dalam rumah. Faktanya bukan itu.
Saat dipakai, banyak debu yang menempel di payung. Apalagi jika payung dipakai saat hujan, maka partikel debu yang bercampur dengan air hujan akan lebih menempel ke payung. Jadi bisa Anda bayangkan, ketika payung yang penuh debu itu dibuka di dalam rumah, tentu saja debunya akan berserakan di dalam rumah.
Kesimpulannya : Memakai Payung di dalam rumah tidak akan membuat hidup orang yang memakai payung sengsara, tapi pemilik rumahlah yang akan sengsara karena harus membersihkan rumahnya dari debu yang menempel di payung.
7. JANGAN BERFOTO DENGAN JUMLAH GANJIL
Di beberapa negara - Jepang, Malaysia, dan Singapura - saya dengar juga ada pantangan seperti ini, di mana kita dilarang berfoto dengan jumlah ganjil, karena disebutkan orang yang di tengah-tengah akan cepat mati. Padahal bukan itu alasan sebenarnya dari pantangan ini.
Dalam konteks Etika, Posisi Tengah adalah Posisi Superioritas, sehingga siapapun yang berada di posisi tengah sudah dipastikan merupakan orang yang punya jabatan atau wewenang yang lebih daripada orang-orang di samping kiri-kanannya. Posisi Tengah biasanya hanya untuk seorang Pemimpin, Raja, Penguasa, Panglima Tertinggi, dan siapapun yang dihormati.
Siapapun tahu aturan dan etika itu. Tentu saja, jika hal ini diaplikasikan saat berfoto, tentu orang yang berada di posisi tengah akan jadi "besar kepala" karena akan menganggap dirinya sebagai sosok yang Paling Dihormati. Apalagi foto sifatnya permanen, tentu saja bisa menimbulkan kecemburuan sosial.
Berfoto dengan jumlah orang genap akan menghilangkan "posisi superioritas" dan menjadikan semua orang sederajat tanpa ada perbedaan. Karena itulah muncullah pantangan yang "melarang" orang berfoto dengan jumlah ganjil.
8. JANGAN TIDUR SORE MENJELANG MAGHRIB
Ada pantangan yang mengajarkan kita untuk tidak tidur sore menjelang maghrib. Tidak ada alasan mengapa, namun akibat dari tidur sore tersebut adalah kita bisa gila. Ada orang menyebutkan kalau Maghrib adalah saat Setan dan Iblis kembali ke alamnya, dan saatnya kaum Muslim untuk sholat agar dijauhkan dari Setan dan Iblis yang sedang kembali. Jika sampai Setan dan Iblis menemukan ada orang sedang tidur saat maghrib, maka mereka akan mengambil alih tubuh orang tersebut sehingga dia akan jadi gila.
Well.... alasan sebenarnya lebih pada dorongan agar Umat Muslim rajin melakukan sholat maghrib, dan tidak menggunakan waktu sore untuk tidur dan bermalas-malasan. Hanya saja caranya mungkin bisa dilakukan dengan lebih mendidik ....
9. TIDAK BOLEH MENGANGKAT KAKI KE ATAS SAAT TIDURAN
"Kalo mengangkat kaki ke atas saat tiduran, itu artinya mendoakan Ibumu cepat mati." Mungkin pantangan ini pernah Anda dengar. Pantangan yang cukup ekstrim dan tentu saja mengerikan bagi sebagian besar orang Indonesia, yang kebanyakan dekat dengan Ibunya.
Bagi sebagian dari Anda, mungkin pantangan ini terdengar aneh dan tidak masuk akal. Mari saya jelaskan : Setiap manusia punya jempol kaki, yang disebut juga dengan "Ibu" Jari Kaki. Nah, apabila saat tiduran kita mengangkat kaki, maka Ibu Jari Kaki itu akan terbalik. Jika diasosiasikan dengan manusia, maka tindakan itu sama saja dengan membalik Ibu kita sendiri dan mengharapkan beliau "mati".
Tidak ada alasan ilmiah yang bisa dijelaskan dari pantangan ini, selain penjelasan di atas.
Melalui perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, mengangkat kaki ke atas saat tiduran justru terbukti baik bagi kesehatan tubuh, karena dapat melancarkan peredaran darah.
10. JANGAN BERLAMA-LAMA DI KAMAR MANDI ATAU TOILET
Baru-baru ini di sebuah tayangan televisi, disebutkan kalau banyak orang yang meninggal di dalam kamar mandi karena terlalu lama di dalamnya. Kasus kematian tersebut kemudian dikaitkan dengan alasan mistis di mana kamar mandi atau toilet disebutkan sebagai tempat tinggalnya para jin. Kemudian kasus kematian itu juga membenarkan mitos dan pantangan agar orang tidak berlama-lama di kamar mandi atau toilet.
Secara ilmiah, sebenarnya bisa dijelaskan kalau kamar mandi dan toilet adalah tempat yang licin karena sering ada sisa air di lantai. Hal ini sangat berbahaya, terutama bagi orang tua yang menggunakan ruang tersebut. Selain itu karena pertimbangan estetika, banyak pernak-pernik yang ditempatkan di kamar mandi, yang menyebabkan tempat tersebut menjadi makin berbahaya untuk digunakan oleh orang tua, seperti penggunakan pijakan bertrap, dinding kaca, sudut tembok yang lancip, serta asesoris kamar mandi (tempat sabun, shampoo, dan lain-lain) yang terbuat dari aluminium atau besi dengan sudut yang tajam.
Jadi tidak ada peran jin yang dapat membuat seseorang mati di kamar mandi. Hanya saja, jika kamar mandi yang Anda pakai adalah kamar mandi atau toilet umum, maka sangat wajar jika Anda tidak berlama-lama di dalam. Banyak orang ngantri di luar menunggu giliran ....
Wednesday, 24 June 2015
10 Bakso Paling Unik Khas Indonesia
Bakso adalah salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Ya, masyarakat di hampir seluruh wilayah Indonesia pasti suka dengan bakso. Bakso dijajakan mulai dari bakso gerobakan, hingga restoran di mal berkelas.
Secara umum, bakso Indonesia terbuat dari daging sapi yang dicampur dengan tepung tapioka dan dibuat bulat. Meski demikian, ada ratusan varian bakso yang kini beredar di Indonesia. Perbedaan masing-masing bakso tersebut ada pada bahan bakunya yang tidak selalu daging sapi (beberapa pengusaha bakso membuat bakso dari daging ayam, ikan, dan udang), serta isian bakso yang beragam (daging cincang, keju, cumi, hati-ampela ayam, dan lain-lain). Cara penyajiannya pun bervariasi, membuat ragam bakso makin banyak.
Secara umum, bakso biasanya dimasak bersama sup kaldu, dan dihidangkan bersama dengan mie, bihun, dan sayuran. Penyajian seperti ini dikenal dengan sebutan Mie Bakso. Tapi ada juga yang hanya menyajikan berbagai jenis bakso dalam kuah kaldu. Dan ada juga yang menyajikan bakso dalam kondisi kering atau digoreng.
Di berbagai wilayah Indonesia, ada berbagai jenis bakso yang menjadi ciri khas suatu wilayah tertentu. Berikut ini saya sajikan 10 jenis bakso paling unik yang hanya ada di Indonesia.
1. BATAGOR (JAWA BARAT)
Batagor (Baso Tahu Goreng) adalah salah satu bentuk penyajian baso yang terbilang cukup unik. Produk yang berasal dari Bandung, Jawa Barat ini mengadaptasi cara makan bakso dari Daratan Tiongkok. Meski namanya "bakso", tapi tidak berbentuk bulat.
Baso-Tahu Goreng merupakan tahu yang diisi adonan ikan tenggiri dan tepung tapioka, kemudian digoreng di minyak panas. Setelah matang, tahu isi tersebut ditiris, kemudian dipotong kecil-kecil. Saat mengonsumsi batagor, biasanya ditambahkan bumbu kacang, kecap manis, sambal, dan air perasan jeruk nipis.
2. BAKSO MALANG (JAWA TIMUR)
Penyajian bakso ini sama dengan penyajian bakso pada umumnya di Indonesia : Bakso dalam kuah kaldu. Hanya bedanya bakso yang disajikan bervariasi : Bakso urat, bakso daging sapi, bakso goreng, siomay, pangsit goreng, dan lain-lain.
Beberapa penjual juga memberikan varian berupa bakso bakar dan mie kuning. Kuah kaldu yang digunakan adalah kuah bening kaldu sapi atau ayam.
3. BAKSO BAKAR BUMBU SATE (MADURA)
Sebenarnya bisa dikatakan panganan ini adalah Sate Bakso, di mana beberapa bakso ditusuk ke Tusuk Sate lalu dibakar. Dari informasi yang saya dapatkan, Bakso Tusuk yang dibakar layaknya sate seperti ini aslinya berasal dari Malang.
Namun berbeda dengan Bakso Bakar di Madura, bakso tersebut dibumbui dengan bumbu sate layaknya sate daging ayam atau sapi pada umumnya. Hal ini membuat Bakso tersebut menjadi lebih harum, gurih, dan lezat karena tambahan bumbu kacang untuk sate.
Sama seperti sate pada umumnya, Bakso Bakar Bumbu Sate dimakan tanpa kuah kaldu bening. Biasanya dimakan dengan nasi putih hangat.
4. BAKSO BALUNGAN (JAWA TENGAH)
Bakso jenis ini pertama kali populer di daerah Demak, kemudian meluas ke Kudus, Pati, dan sekitarnya. Sebenarnya Bakso Balungan merupakan pengembangan dari Soto Kerbau yang menjadi ciri khas Demak.
Sama seperti bakso lainnya, komposisi Bakso Bulungan terdiri dari bakso kuah dan mie. Yang menjadi ciri khasnya adalah pada tambahan potongan tulang sapi serta irisan kecil daging sapi. Tulang sapi yang besar itu tidak saja memiliki serpihan daging yang masih melekat di beberapa bagian tulang, namun juga memiliki sungsum dalam tulang yang sangat lezat. Banyak orang senang menyeruput sumsum tulang tersebut, usai menyantap mie baksonya. Hmm... lezat sekali....
5. BAKSO TENIS (JAWA BARAT)
Sesuai namanya, bakso ini memiliki ukuran yang sangat besar bak bola tenis. Ya, produk yang pertama kali populer di Bandung ini terbilang cukup unik karena ukurannya yang sangat besar. Biasanya bakso itu merupakan bakso berisi daging cincang.
Penyajiannya mirip seperti penyajian Mie Bakso pada umumnya : Mie dan sayuran dalam kuah kaldu. Bedanya pada baksonya yang tidak dicampur dalam kuah kaldu itu, namun diletakkan di piring terpisah. Bakso tersebut kemudian dibelah empat, sehingga daging cincang di dalam bakso menyembul keluar.
Produk bakso lain yang mirip dengan Bakso Tenis adalah Bakso Setan, di mana Bakso tersebut memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada Bakso Tenis (sebesar bola basket), dengan isi yang sama (daging cincang).
6. CELIMPUNGAN (SUMATERA SELATAN)
Meski namanya bukan "bakso" namun secara penampilan, panganan ini bisa terbilang satu "keluarga" dengan Bakso.
Terbuat dari adonan daging ikan dan sagu, Celimpungan dibuat dalam ukuran bulat kemudian dimasak dengan kuah santan, dan dimakan dengan tambahan sambal goreng. Celimpungan merupakan makanan tradisional Sumatera Selatan yang masih banyak dijumpai hingga hari ini.
7. BAKSO HERBAL (D.I. ACEH)
Jika bakso yang umum menggunakan bahan dasar daging, maka Bakso Herbal menggunakan bahan sayur-sayuran dan buah-buahan. Bakso Herbal ini adanya di Kabupaten Aceh Tamiang, D.I. Aceh.
Penyajiannya sama seperti Mie Bakso pada umumnya. Hanya yang membedakannya terletak dari bahan baksonya yang terbuat dari daging sapi yang dicampur dengan buah dan sayur-mayur yang sudha digiling halus. Ada Bakso Bayam, Bakso Wortel, Bakso Buah Bit. Kuahnya sendiri merupakan rebusan tulang sapi dan wortel, sehingga terasa segar.
Selain itu, ada tambahan suwiran daging ayam goreng, daun seledri, bawang goreng, dan kerupuk pada Mie Bakso Herbal ini, menjadikannya berbeda dari mie bakso umum yang ada di Indonesia.
8. BAKSO MUTIARA (KALIMANTAN)
Makanan akulturasi budaya Tionghua-Indonesia ini kini disebut sebagai makanan khas Banjarmasin. Penyajiannya cukup berbeda dengan bakso pada umumnya, karena tidak disajikan layaknya Mie Bakso pada umumnya.
Bakso Mutiara biasanya disajikan dalam bentuk bakso dalam kuah kaldu gurih yang terbuat dari bahan susu, bawang merah, bawah putih, dan pala yang dihaluskan, sehingga warnanya agak putih. Baksonya sendiri mengunakan daging ayam yang digiling, dicampung dengan kentang, bawang putih yang dihaluskan, serta tambahan susu. Hal ini membuat tekstur baksonya menjadi halus, meski tidak sehalus bakso ikan. Baksonya dibuat dalam ukuran kecil sehingga sekilas tampak seperti Mutiara.
9. BAKSO KOJEK (SUMATERA UTARA)
Di Medan, Sumatera Utara, Bakso Kojek adalah salah satu makanan yang cukup terkenal. Penyajiannya sama seperti Mie Bakso pada umumnya yang ada di Indonesia. Namun perbedaannya terletak pada bakso dan kuahnya.
Bakso yang digunakan pada Bakso Kojek adalah bakso ikan tenggiri. Sedangkan kuahnya sendiri merupakan kuah bening kaldu ikan yang kaya rempah, sehingga aroma kuahnya sangat harum dan memikat. Biasanya ada tambahan bihun atau mie, membuat Bakso Kojek terasa enak banget.
10. BAKSO MERCON (GARUT)
Garut punya Mie Bakso khas mereka sendiri yang dikenal dengan nama Bakso Mercon. Meski namanya "seram" tapi tidak berarti bakso ini menggunakan bahan mesiu yang berbahaya. Sebaliknya, bakso ini menggunakan bahan super pedas mantap yang menjadikan makanan ini sangat "mengerikan" dan "berbahaya".
Dari penampilan, Bakso Mercon sama saja dengan Mie Bakso kebanyakan yang beredar di Indonesia. Perbedaannya terletak pada baksonya sendiri yang pada terbuat dari tepung tapioka, merica, daging sapi, urat sapi, dan cabe rawit yang dicampur, kemudian dibentuk bulatan besar. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Bakso ini super pedas karena menggunakan cabe rawit.
Secara umum, bakso Indonesia terbuat dari daging sapi yang dicampur dengan tepung tapioka dan dibuat bulat. Meski demikian, ada ratusan varian bakso yang kini beredar di Indonesia. Perbedaan masing-masing bakso tersebut ada pada bahan bakunya yang tidak selalu daging sapi (beberapa pengusaha bakso membuat bakso dari daging ayam, ikan, dan udang), serta isian bakso yang beragam (daging cincang, keju, cumi, hati-ampela ayam, dan lain-lain). Cara penyajiannya pun bervariasi, membuat ragam bakso makin banyak.
![]() |
| Mie Bakso Indonesia |
Secara umum, bakso biasanya dimasak bersama sup kaldu, dan dihidangkan bersama dengan mie, bihun, dan sayuran. Penyajian seperti ini dikenal dengan sebutan Mie Bakso. Tapi ada juga yang hanya menyajikan berbagai jenis bakso dalam kuah kaldu. Dan ada juga yang menyajikan bakso dalam kondisi kering atau digoreng.
Di berbagai wilayah Indonesia, ada berbagai jenis bakso yang menjadi ciri khas suatu wilayah tertentu. Berikut ini saya sajikan 10 jenis bakso paling unik yang hanya ada di Indonesia.
1. BATAGOR (JAWA BARAT)
Batagor (Baso Tahu Goreng) adalah salah satu bentuk penyajian baso yang terbilang cukup unik. Produk yang berasal dari Bandung, Jawa Barat ini mengadaptasi cara makan bakso dari Daratan Tiongkok. Meski namanya "bakso", tapi tidak berbentuk bulat.
Baso-Tahu Goreng merupakan tahu yang diisi adonan ikan tenggiri dan tepung tapioka, kemudian digoreng di minyak panas. Setelah matang, tahu isi tersebut ditiris, kemudian dipotong kecil-kecil. Saat mengonsumsi batagor, biasanya ditambahkan bumbu kacang, kecap manis, sambal, dan air perasan jeruk nipis.
2. BAKSO MALANG (JAWA TIMUR)
Penyajian bakso ini sama dengan penyajian bakso pada umumnya di Indonesia : Bakso dalam kuah kaldu. Hanya bedanya bakso yang disajikan bervariasi : Bakso urat, bakso daging sapi, bakso goreng, siomay, pangsit goreng, dan lain-lain.
Beberapa penjual juga memberikan varian berupa bakso bakar dan mie kuning. Kuah kaldu yang digunakan adalah kuah bening kaldu sapi atau ayam.
3. BAKSO BAKAR BUMBU SATE (MADURA)
Sebenarnya bisa dikatakan panganan ini adalah Sate Bakso, di mana beberapa bakso ditusuk ke Tusuk Sate lalu dibakar. Dari informasi yang saya dapatkan, Bakso Tusuk yang dibakar layaknya sate seperti ini aslinya berasal dari Malang.
Namun berbeda dengan Bakso Bakar di Madura, bakso tersebut dibumbui dengan bumbu sate layaknya sate daging ayam atau sapi pada umumnya. Hal ini membuat Bakso tersebut menjadi lebih harum, gurih, dan lezat karena tambahan bumbu kacang untuk sate.
Sama seperti sate pada umumnya, Bakso Bakar Bumbu Sate dimakan tanpa kuah kaldu bening. Biasanya dimakan dengan nasi putih hangat.
4. BAKSO BALUNGAN (JAWA TENGAH)
Bakso jenis ini pertama kali populer di daerah Demak, kemudian meluas ke Kudus, Pati, dan sekitarnya. Sebenarnya Bakso Balungan merupakan pengembangan dari Soto Kerbau yang menjadi ciri khas Demak.
Sama seperti bakso lainnya, komposisi Bakso Bulungan terdiri dari bakso kuah dan mie. Yang menjadi ciri khasnya adalah pada tambahan potongan tulang sapi serta irisan kecil daging sapi. Tulang sapi yang besar itu tidak saja memiliki serpihan daging yang masih melekat di beberapa bagian tulang, namun juga memiliki sungsum dalam tulang yang sangat lezat. Banyak orang senang menyeruput sumsum tulang tersebut, usai menyantap mie baksonya. Hmm... lezat sekali....
5. BAKSO TENIS (JAWA BARAT)
Sesuai namanya, bakso ini memiliki ukuran yang sangat besar bak bola tenis. Ya, produk yang pertama kali populer di Bandung ini terbilang cukup unik karena ukurannya yang sangat besar. Biasanya bakso itu merupakan bakso berisi daging cincang.
Penyajiannya mirip seperti penyajian Mie Bakso pada umumnya : Mie dan sayuran dalam kuah kaldu. Bedanya pada baksonya yang tidak dicampur dalam kuah kaldu itu, namun diletakkan di piring terpisah. Bakso tersebut kemudian dibelah empat, sehingga daging cincang di dalam bakso menyembul keluar.
Produk bakso lain yang mirip dengan Bakso Tenis adalah Bakso Setan, di mana Bakso tersebut memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada Bakso Tenis (sebesar bola basket), dengan isi yang sama (daging cincang).
6. CELIMPUNGAN (SUMATERA SELATAN)
Meski namanya bukan "bakso" namun secara penampilan, panganan ini bisa terbilang satu "keluarga" dengan Bakso.
Terbuat dari adonan daging ikan dan sagu, Celimpungan dibuat dalam ukuran bulat kemudian dimasak dengan kuah santan, dan dimakan dengan tambahan sambal goreng. Celimpungan merupakan makanan tradisional Sumatera Selatan yang masih banyak dijumpai hingga hari ini.
7. BAKSO HERBAL (D.I. ACEH)
Jika bakso yang umum menggunakan bahan dasar daging, maka Bakso Herbal menggunakan bahan sayur-sayuran dan buah-buahan. Bakso Herbal ini adanya di Kabupaten Aceh Tamiang, D.I. Aceh.
Penyajiannya sama seperti Mie Bakso pada umumnya. Hanya yang membedakannya terletak dari bahan baksonya yang terbuat dari daging sapi yang dicampur dengan buah dan sayur-mayur yang sudha digiling halus. Ada Bakso Bayam, Bakso Wortel, Bakso Buah Bit. Kuahnya sendiri merupakan rebusan tulang sapi dan wortel, sehingga terasa segar.
Selain itu, ada tambahan suwiran daging ayam goreng, daun seledri, bawang goreng, dan kerupuk pada Mie Bakso Herbal ini, menjadikannya berbeda dari mie bakso umum yang ada di Indonesia.
8. BAKSO MUTIARA (KALIMANTAN)
Makanan akulturasi budaya Tionghua-Indonesia ini kini disebut sebagai makanan khas Banjarmasin. Penyajiannya cukup berbeda dengan bakso pada umumnya, karena tidak disajikan layaknya Mie Bakso pada umumnya.
Bakso Mutiara biasanya disajikan dalam bentuk bakso dalam kuah kaldu gurih yang terbuat dari bahan susu, bawang merah, bawah putih, dan pala yang dihaluskan, sehingga warnanya agak putih. Baksonya sendiri mengunakan daging ayam yang digiling, dicampung dengan kentang, bawang putih yang dihaluskan, serta tambahan susu. Hal ini membuat tekstur baksonya menjadi halus, meski tidak sehalus bakso ikan. Baksonya dibuat dalam ukuran kecil sehingga sekilas tampak seperti Mutiara.
9. BAKSO KOJEK (SUMATERA UTARA)
Di Medan, Sumatera Utara, Bakso Kojek adalah salah satu makanan yang cukup terkenal. Penyajiannya sama seperti Mie Bakso pada umumnya yang ada di Indonesia. Namun perbedaannya terletak pada bakso dan kuahnya.
Bakso yang digunakan pada Bakso Kojek adalah bakso ikan tenggiri. Sedangkan kuahnya sendiri merupakan kuah bening kaldu ikan yang kaya rempah, sehingga aroma kuahnya sangat harum dan memikat. Biasanya ada tambahan bihun atau mie, membuat Bakso Kojek terasa enak banget.
10. BAKSO MERCON (GARUT)
Garut punya Mie Bakso khas mereka sendiri yang dikenal dengan nama Bakso Mercon. Meski namanya "seram" tapi tidak berarti bakso ini menggunakan bahan mesiu yang berbahaya. Sebaliknya, bakso ini menggunakan bahan super pedas mantap yang menjadikan makanan ini sangat "mengerikan" dan "berbahaya".
Dari penampilan, Bakso Mercon sama saja dengan Mie Bakso kebanyakan yang beredar di Indonesia. Perbedaannya terletak pada baksonya sendiri yang pada terbuat dari tepung tapioka, merica, daging sapi, urat sapi, dan cabe rawit yang dicampur, kemudian dibentuk bulatan besar. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Bakso ini super pedas karena menggunakan cabe rawit.
Subscribe to:
Posts (Atom)













